Posts filed under ‘kebidanan




langsing kembali setelah melahirkan

Khawatir menjadi gemuk setelah melahirkan agaknya sudah jadi ketakutan yang ‘wajar’ bagi ibu-ibu muda yang kini tengah merencanakan untuk memiliki momongan. Pasalnya, sudah banyak ‘contoh’ di sekeliling kita yang memperlihatkan betapa wanita yang baru melahirkan umumnya akan mengalami kenaikan berat badan yang lumayan besar dari beratnya semula sebelum hamil.

Sebenarnya tak perlu khawatir berlebihan menyikapi hal ini. Karena ada beberapa penelitian yang mengungkap, bahwa aktifitas menyusui bayi bisa membantu ibu untuk menurunkan berat badannya secara bertahap, setidaknya selama 12 bulan setelah kelahiran. Dalam proses tersebut, sejumlah hormon akan dilepaskan ke dalam tubuh. Hormon-hormon inilah yang akan membantu uterus (rahim) untuk mengembalikan tubuh ke bentuk dan ukuran semula seperti sebelum masa kehamilan.

adved_1136191075.jpg

Di masa kehamilan, tubuh akan mengalami kenaikan berat badan sebesar 22 – 30 kg pada umumnya. Jika itu yang Anda alami, dianjurkan untuk mengurangi  berat badan sebesar 1 kg/minggu pasca melahirkan. Tapi, jika kenaikan berat badan Anda melebihi 22 – 30 kg, maka Anda diperbolehkan untuk mengurangi berat badan di atas 2 kg/minggu. Tapi jangan lupa untuk memperhatikan agar penurunan berat badan ini tidak mengganggu kualitas dan kuantitas ASI Anda.

Walau menyusui merupakan cara alami untuk menurunkan berat badan, jangan lantas Anda hanya mengandalkan cara ini. Sebaiknya lakukan juga program penurunan berat badan yang mendukung, termasuk mencermati konsumsi makanan dan melakukan latihan-latihan atau olahraga yang sesuai dengan kemampuan tubuh Anda.

Jadi apa yang mesti Anda perhatikan jika saat ini Anda baru melahirkan dan ingin melakukan penurunan berat badan? Here’s the guidance:

1. Awali dengan Mengembalikan Energi

Sadarkah Anda bahwa tubuh Anda baru saja mengalami ketegangan yang menguras tenaga selama proses melahirkan tersebut? Well, berilah tubuh Anda waktu untuk beristirahat lebih dulu, hitung-hitung untuk mengembalikan energi yang ‘hilang’. Pastikan tubuh sudah dalam kondisi yang benar-benar sehat dan bugar saat Anda memutuskan untuk mulai berdiet.

2. Jangan Buat ‘Kesalahan’ Dulu!

Biasanya ‘tanpa sadar’ ibu-ibu yang baru melahirkan terpancing untuk melakukan beberapa kesalahan yang justru membuat tubuhnya semakin ‘membengkak’. Seperti menyantap junk food, makanan gurih yang berlemak dan kemudian melakukan diet dengan tergesa-gesa yang hasilnya justru bisa membahayakan tubuh! 

adved_1136191086.jpg

3. Cari informasi yang Tepat untuk Memilih Program Diet

Untuk yang satu ini, Anda disarankan untuk menghubungi dokter atau klinik yang kompeten untuk menjelaskan nutrisi penting bagi wanita pasca melahirkan. Jatuhkan pilihan pada program diet yang menawarkan cara alami dan menawarkan penurunan berat badan secara bertahap, sehingga aman bagi kesehatan

adved_1136191095.jpg

4. Berpikir Logis

Lakukanlah diet yang ‘masuk akal’ dan realistis. Apabila sebuah program diet menawarkan hal-hal yang sifatnya ekstrem, seperti penurunan berat badan yang drastis dalam waktu singkat, sebaiknya jangan cepat termakan. Semakin tidak logis, semakin harus Anda jauhi. Hindari juga obat-obat pelangsing dan teh yang bersifat diuretik atau jamu-jamuan yang bisa membahayakan produksi ASI.

5. Lakukan Olahraga Ringan

Para ahli mengatakan, bahwa olahraga ringan seperti jalan santai atau yoga dapat membantu mengurangi depresi para ibu setelah melahirkan (post-partum blues). Waktu yang tepat untuk memulai olahraga ini adalah 6 minggu setelah bersalin.

6. Yang Anda perlukan adalah KESABARAN !

Mengembalikan bentuk tubuh seperti kondisi semula seperti sebelum Anda hamil dan melahirkan tak bisa diperoleh dengan cara singkat, apalagi instan! Untuk itu dibutuhkan tingkat kesabaran dan ketekunan yang tinggi saat Anda melakukannya. Dukungan dari keluarga terutama suami juga punya peran penting agar Anda merasa ‘di-support’ untuk bisa mencapai berat tubuh dambaan Anda!

Good Luck!

www.conectique.com/tips_solution/pregnancy/baby_delivery/article.php?article_id=2934 – 33k

Add comment Juni 29, 2007

ANTENATAL CARE (diagnosa pra kelahiran)

Dengan kemajuan ilmu kedikteran saat ini, kini calon ibu tak pelu lagi cemas dan bertanya-tanya “Apakah kelak bayiku akan lahir sehat dan normal?” Sebab kini sudah ada Metode pendeteksian yang melibatkan pemeriksaan rutin sejak masa kehamilan dini. Pemeriksaan yang disebut sebagai Antenatal care. Sebuah tes yang dapat membantu calon orangtua untuk mendapatkan mendiagnosa kecenderungan bayi lahir cacat atau normal. Sehingga jika ada kemungkinan ketidaknormalan pada janin calon orangtua serta dokter yang menangani dapat segera mengambil tindakan.

Tes apakah dan apa sajakah itu?
1. Tes darah

Jenis pemeriksaan ini dianjurkan dokter setelah Anda dinyatakan positif hamil. Contoh darah akan diambil untuk diperiksa apakah terinfeksi virus tertentu atau resus antibodi.

Contoh darah calon ibu juga digunakan untuk pemeriksaan hCG. Dunia kedokteran menemukan, kadar hCG yang tinggi pada darah ibu hamil berarti ia memiliki risiko yang tinggi memiliki bayi dengan sindroma Down.

2. Alfa Fetoprotein (AFP)
Tes ini hanya pada ibu hamil dengan cara mengambil contoh darah untuk diperiksa. Tes dilaksanakan pada minggu ke-16 hingga 18 kehamilan. Kadar Maternal-serum alfa-fetoprotein (MSAFP) yang tinggi menunjukkan adanya cacat pada batang saraf seperti spina bifida (perubahan bentuk atau terbelahnya ujung batang saraf) atau anencephali (tidak terdapatnya semua atau sebagian batang otak). Kecuali itu, kadar MSAFP yang tinggi berisiko terhadap kelahiran prematur atau memiliki bayi dengan berat lahir rendah. 3. Sampel Chorion Villus (CVS)
Tes ini jarang dilakukan oleh para dokter karena dikhawatirkan berisiko menyebabkan abortus spontan. Tes ini dilakukan untuk memeriksa kemungkinan kerusakan pada kromosom. Serta untuk mendiagnosa penyakit keturunan. Tes CVS ini mampu mendeteksi adanya kelainan pada janin seperti Tay-Sachs, anemia sel sikel, fibrosis berkista, thalasemia, dan sindroma Down.

4. Ultrasonografi (USG)
Tes ini dilakukan untuk mendeteksi kelainan struktural pada janin, seperti; bibir sumbing atau anggota tubuh yang tidak berkembang. Sayangnya USG tidak bisa mendeteksi kecacatan yang disebabkan oleh faktor genetik. Biasanya USG dilakukan pada minggu ke-12 kehamilan. Pada pemeriksaan lebih lanjut USG digunakan untuk melihat posisi plasenta dan jumlah cairan amnion, sehingga bisa diketahui lebih jauh cacat yang diderita janin.
Kelainan jantung, paru-paru, otak, kepala, tulang belakang, ginjal dan kandung kemih, sistem pencernaan, adalah hal-hal yang bisa diketahui lewat USG.

5. Amiosentesis
Pemeriksaan ini biasanya dianjurkan bila calon ibu berusia di atas 35 tahun. Karena hamil di usia ini memiliki risiko cukup tinggi. Terutama untuk menentukan apakah janin menderita sindroma Down atau tidak. Amniosentesis dilakukan dengan cara mengambil cairan amnion melalui dinding perut ibu. Cairan amnion yang mengandung sel-sel janin, bahan-bahan kimia, dan mikroorganisme, mampu memberikan informasi tentang susunan genetik, kondisi janin, serta tingkat kematangannya. Tes ini dilakukan pada minggu ke-16 dan 18 kehamilan. Sel-sel dari cairan amnion ini kemudian dibiakkan di laboratorium. Umumnya memerlukan waktu sekitar 24 sampai 35 hari untuk mengetahui dengan jelas dan tuntas hasil biakan tersebut.

6. Sampel darah janin atau cordosentesis
Sampel darah janin yang diambil dari tali pusar. Langkah ini diambil jika cacat yang disebabkan kromosom telah terdeteksi oleh pemeriksaan USG. Biasanya dilakukan setelah kehamilan memasuki usia 20 minggu. Tes ini bisa mendeteksi kelainan kromosom, kelainan metabolis, kelainan gen tunggal, infeksi seperti toksoplasmosis atau rubela, juga kelainan pada darah (rhesus), serta problem plasenta semisal kekurangan oksigen.

7. Fetoskopi
Meski keuntungan tes ini bisa menemukan kemungkinan mengobati atau memperbaiki kelainan yang terdapat pada janin. Namun tes ini jarang digunakan karena risiko tindakan fetoskopi cukup tinggi. Sekitar 3 persen sampai 5 persen kemungkinan kehilangan janin. Dilakukan dengan menggunakan alat mirip teleskop kecil, lengkap dengan lampu dan lensa-lensa.
Dimasukkan melalui irisan kecil pada perut dan rahim ke dalam kantung amnion. Alat-alat ini mampu memotret janin. Tentu saja sebelumnya perut si ibu hamil diolesi antiseptik dan diberi anestesi lokal.

8. Biopsi kulit janin
Pemeriksaan ini jarang dilakukan di Indonesia. Biopsi kulit janin (FSB) dilakukan untuk mendeteksi kecacatan serius pada genetika kulit yang berasal dari keluarga, seperti epidermolysis bullosa lethalis (EBL). Kondisi ini menunjukkan lapisan kulit yang tidak merekat dengan pas satu sama lainnya sehingga menyebabkan panas yang sangat parah. Biasanya tes ini dilakukan setelah melewati usia kehamilan 15-22 minggu.

Pemeriksaan kehamilan sejak dini, akan memberi informasi yang berharga untuk membuat keputusan yang tepat bagi Anda dan pasangan untuk membuat keputusan yang terbaik bagi janin bila diketahui janin menderita kecacatan.

www.conectique.com/tips_solution/pregnancy/baby_delivery/article.php?article_id=2934 – 33k

Add comment Juni 28, 2007

  • Kategori

  •  

    November 2009
    S S R K J S M
    « Jul    
     1
    2345678
    9101112131415
    16171819202122
    23242526272829
    30  
  • Komentar Terakhir

    Mr WordPress di Hello world!
  •