Posts filed under ‘Penyulit dalam Kehamilan’
Pengawasan Tekanan Darah Cegah Pre eklampsia
Pre eklampsia atau yang sering disebut dengan Toksemia Gravidarum atau keracunan dalam kehamilan, merupakan salah satu penyebab kematian tersering pada ibu hamil di Indonesia. Gejala yang dapat ditemukan pada penderita pre eklampsia adalah tekanan darah yang meningkat, pembengkakan pada tungkai dan ditemukannya protein dalam air seni. Bila keadaan ini tidak diatasi, maka sang ibu akan jatuh ke dalam keadaan Eklampsia, yang berakibat kejang, suatu kondisi yang dapat membahayakan jiwa ibu maupun janin dalam kandungan.
Peningkatan tekanan darah baik dalam nilai sistolik (nilai atas pengukuran) maupun dalam nilai diastolik (nilai bawah pengukuran), merupakan suatu prediksi penting akan kemungkinan terjadinya suatu komplikasi yang serius dalam pre eklampsia. Tapi nilai sistolik lebih bermakna, karena nilai tekanan sistolik yang sangat tinggi merupakan tanda waspada yang lebih bermakna untuk seorang wanita untuk mengalami stroke dalam pre eklampsia atau menjadi eklampsia, dibanding dengan nilai tekanan diastolik yang sangat tinggi.
Hasil tersebut merupakan hasil penelitian dari para ahli di Amerika Serikat dari analisa riwayat kasus dari 28 orang wanita yang menderita stroke yang berhubungan dengan pre eklampsia atau eklampsia.
Dari 28 wanita tersebut, hanya tiga orang yang mempunyai nilai diatolik yang lebih besar atau sama dengan 110 mmHg sebelum terjadinya stroke. Sedang 23 orang wanita mempunyai tekanan sistolik yang sama atau lebih besar dari 160 mmHg. Seluruh wanita tersebut mempunyai tekanan sistolik yang lebih dari 155 mmHg.
Wanita yang mengalami pre eklampsia berat dan eklampsia dengan tekanan sistolik yang tinggi (lebih tinggi dari 160 mmHg), akan berisiko tinggi untuk mengalami stroke. Oleh karena itu dianjurkan untuk segera mendapat pengobatan dan pengawasan khusus, perawatan intensif dan pengobatan untuk menurunkan tekanan darahnya dalam mencegah terjadinya stroke. Demikian anjuran dari para ahli. Sedang tes deteksi pre eklampsia, baru akan tersedia beberapa tahun lagi.
Sumber: Jurnal Obstetrics & Gynecology
Add comment Juli 1, 2007
Placenta-previa: Plasenta bisa pindah?
Placenta kok bisa jalan-jalan ya Bu ? Aneh bener hehehe … Ini topik menarik sejak saya kuliah dulu.
Secara sederhana, rahim berbentuk segitiga terbalik, atau bisa juga dibayangkan seperti daun waru (clover) terbalik dengan tangkai di bawah. Bagian “tangkai” ini berbentuk seperti tabung atau corong (dikenal sebagai leher rahim) dengan ujung terbuka (dikenal sebagai mulut rahim).
Normalnya plasenta terletak di bagian fundus (bagian puncak/atas rahim), bisa agak ke kiri atau ke kanan sedikit, tetapi tidak sampai meluas ke bagian bawah apalagi menutupi jalan lahir.
Patokan jalan lahir ini adalah ostium uteri internum (disingkat OUI, yaitu mulut rahim bila dilihat dari bagian dalam rahim). Kalau dilihat dari luar – dari arah vagina – disebut ostium uteri eksterum.
Placenta-previa artinya “plasenta di depan” (previa=depan). Artinya, plasenta berada lebih “depan” daripada janin yang hendak keluar. Angka kejadiannya sekitar 3-6 dari 1000 kehamilan.
Terhadap jalan lahir ada 4 kemungkinan jenis plasenta previa :
1. Placenta previa totalis, bila plasenta menutupi seluruh jalan lahir. Pada posisi ini, jelas tidak mungkin bayi dilahirkan per-vaginam (normal/spontan/biasa), karena risiko perdarahan sangat hebat.
2. Placenta previa partialis, bila hanya sebagian/separuh plasenta yang menutupi jalan lahir. Pada posisi inipun risiko perdarahan masih besar, dan biasanya tetap tidak dilahirkan melalui per-vaginam.
3. Placenta previa marginalis, bila hanya bagian tepi plasenta yang menutupi jalan lahir. Bisa dilahirkan per-vaginam tetapi risiko perdarahan tetap besar.
4. Low-lying placenta (plasenta letak rendah, lateralis placenta atau kadang disebut juga dangerous placenta), posisi plasenta beberapa mm atau cm dari tepi jalan lahir. Risiko perdarahan tetap ada, namun bisa dibilang kecil, dan bisa dilahirkan per-vaginam dengan aman, asal hat-hati.
(kadang dokter memperkirakan risiko perdarahan sehingga dibutuhkan persiapan darah transfusi pada persalinan. Silakan baca ulang tentang mendapatkan persiapan darah transfusi ini di topik “mengapa darah transfusi terlambat”).
Diagnosa ini mulai dipastikan sejak kira-kira umur kehamilan 26-28 minggu, dimana mulai terbentuk SBR (Segmen Bawah Rahim). Dengan terbentuknya SBR, leher rahim yang semula masih berbentuk seperti corong (lihat gambar di pojok kanan atas), akan mulai memipih, untuk nantinya saat menjelang persalinan mulai membuka (sudah biasa mendengar “pembukaannya sudah berapa cm” begitu kan?)
Dari perubahan inilah bisa terjadi plasenta “berpindah” atau lebih tepatnya bergeser secara relatif menjauhi jalan lahir, seolah-olah bergerak ke atas. Itulah sebabnya, sebelum masuk trimester terakhir, sekitar 28 minggu/7 bulan, dibiarkan saja dulu asal tidak terjadi perdarahan yang tidak bisa dikendalikan. Diharapkan nanti setelah 7 bulan, beruntung bisa “pindah” ke atas seperti penjelasan sebelumnya.
Tentu saja, penilaian paling optimal dan menentukan adalah saat mendekati persalinan, untuk memastikan benar-benar dimana posisi plasenta. Itulah mengapa, keputusan cara persalinan bisa berubah di menit-menit terakhir.
Begitu pula, jangan lantas menyebut bahwa diagnosa placenta-previa pada usia kehamilan muda dianggap “positif palsu”. Setelah membaca tulisan ini, sudah tahu bukan mengapa demikian?
Apa sih sebabnya terjadi kelainan tempat plasenta ? Bisa karena kelainan bawaaan pada bentuk rahim, adanya tumor rahim, atau bekas operasi sebelumnya yang meninggalkan jaringan parut di rahim. Bisa sebabnya faktor rahim : kehamilan ganda/kembar, ada kelainan bawaan rahim. Tidak ada hubungannya dengan saat hamil naik turun tangga atau banyak jungkir balik misalnya.
Tindakan ditentukan oleh jenis plasenta previanya. Biasanya ditunggu sampai sekitar 7 bulan untuk memastikan benar dimana posisi plasenta. Karena itu, walau Ibu hamil tidak “nungging”, kalau dasarnya memang bukan tipe previa ya tetap akan “bergeser” ke atas.
Risiko dari kelainan posisi ini, paling utama tentu perdarahan. Perdarahan bisa terjadi menjelang/saat persalinan. Ini dihindari/diantisipasi dengan penentuan cara persalinan operatif.
Bisa terjadi perdarahan saat mulai terjadi pembentukan segmen bawah rahim, dimana ada bagian plasenta yang “robek” oleh pergeseran jaringan di sekitar mulut rahim. Bila ini terjadi, yang terganggu adalah kesejahteraan janin, dan bisa juga memicu persalinan prematurus.
Bisa juga terjadi perdarahan oleh tekanan kepala janin saat mulai memasuki segmen bawah rahim sebagai persiapan menuju persalinan.
Apa yang menjadi faktor risiko plasenta-previa?
1. Wanita lebih dari 35 tahun, 3 kali lebih berisiko.
2. Multiparitas, apalagi bila jaraknya singkat. Secara teori plasenta yang baru berusaha mencari tempat selain bekas plasenta sebelumnya.
3. Kehamilan kembar.
4. Adanya gangguan anatomis/tumor pada rahim sehingga mempersempit permukaan bagi penempelan plasenta.
5. Adanya jaringan parut pada rahim oleh operasi sebelumnya. Dilaporkan, tanpa jaringan parut berisiko 0,26%. Setelah bedah sesar, bertambah berturut-turut menjadi 0,65% setelah 1 kali, 1,8% setelah 2 kali, 3% setelah 3 kali dan 10% setelah 4 kali atau lebih.
6. Adanya endometriosis (adanya jaringan rahim pada tempat yang bukan seharusnya, misalnya di indung telur) setelah kehamilan sebelumnya.
7. Riwayat plasenta previa sebelumnya, berisiko 12 kali lebih besar.
8. Adanya trauma selama kehamilan.
9. Kebiasaan tidak sehat seperti merokok dan minum alkohol.
Selain placenta previa, ada juga perdarahan akibat solusio plancentae. Terjadi bila penempelan plasenta di tempat yang normal tetapi terlepas dari dinding rahim. Penyebab terlepas bisa karena perubahan anatomis/tumor pada rahim, karena tali plasenta pendek sehingga tertarik oleh gerakan janin, atau karena daya dukung plasenta memang sudah sangat berkurang, sehingga rapuh.
Akibatnya terjadi perdarahan. Secara mudah, pada placenta previa perdarahan tidak diikuti nyeri perut. Tetapi pada solusio plasenta, perdarahan diikuti nyeri perut yang hebat.
Karena itu, posisi plasenta adalah salah satu hal yang penting diperiksa saat menjalani USG. Ini lebih penting daripada soal apa jenis kelaminnya (bukan berarti nggak boleh lho ya nanya jenis kelamin, hanya rasional dong, mana yang lebih penting seharusnya didahulukan).
Salam hangat untuk janin Anda …
Add comment Juli 1, 2007
Pre eklampsia
Pre eklampsia atau yang sering disebut dengan Toksemia Gravidarum atau keracunan dalam kehamilan, merupakan salah satu penyebab kematian tersering pada ibu hamil di Indonesia. Gejala yang dapat ditemukan pada penderita pre eklampsia adalah tekanan darah yang meningkat, pembengkakan pada tungkai dan ditemukannya protein dalam air seni. Bila keadaan ini tidak diatasi, maka sang ibu akan jatuh ke dalam keadaan Eklampsia, yang berakibat kejang, suatu kondisi yang dapat membahayakan jiwa ibu maupun janin dalam kandungan.
Peningkatan tekanan darah baik dalam nilai sistolik (nilai atas pengukuran) maupun dalam nilai diastolik (nilai bawah pengukuran), merupakan suatu prediksi penting akan kemungkinan terjadinya suatu komplikasi yang serius dalam pre eklampsia. Tapi nilai sistolik lebih bermakna, karena nilai tekanan sistolik yang sangat tinggi merupakan tanda waspada yang lebih bermakna untuk seorang wanita untuk mengalami stroke dalam pre eklampsia atau menjadi eklampsia, dibanding dengan nilai tekanan diastolik yang sangat tinggi.
Hasil tersebut merupakan hasil penelitian dari para ahli di Amerika Serikat dari analisa riwayat kasus dari 28 orang wanita yang menderita stroke yang berhubungan dengan pre eklampsia atau eklampsia.
Dari 28 wanita tersebut, hanya tiga orang yang mempunyai nilai diatolik yang lebih besar atau sama dengan 110 mmHg sebelum terjadinya stroke. Sedang 23 orang wanita mempunyai tekanan sistolik yang sama atau lebih besar dari 160 mmHg. Seluruh wanita tersebut mempunyai tekanan sistolik yang lebih dari 155 mmHg.
Wanita yang mengalami pre eklampsia berat dan eklampsia dengan tekanan sistolik yang tinggi (lebih tinggi dari 160 mmHg), akan berisiko tinggi untuk mengalami stroke. Oleh karena itu dianjurkan untuk segera mendapat pengobatan dan pengawasan khusus, perawatan intensif dan pengobatan untuk menurunkan tekanan darahnya dalam mencegah terjadinya stroke. Demikian anjuran dari para ahli. Sedang tes deteksi pre eklampsia, baru akan tersedia beberapa tahun lagi.
Sumber: Jurnal Obstetrics & Gynecology
Add comment Juli 1, 2007
MOLA HIDATIDOSA
Mengapa Bisa Terjadi ”Hamil Anggur”?
”Hamil anggur” atau yang dalam dunia kedokteran dikenal sebagai mola hidatidosa adalah suatu kehamilan yang berkembang tidak wajar. Di dalam rahim tidak ditemukan janin, melainkan jaringan berbentuk gelembung-gelembung seperti buah anggur yang berisi cairan.
”HAMIL anggur” sering pula disebut mola komplit (complete mole). Sedangkan apabila disertai janin atau bagian dari janin disebut mola parsialis (partial mole). Bila ada mola disertai janin, kejadiannya ada dua kemungkinan. Pertama, kehamilan kembar, satu janin tumbuh normal dan hasil konsepsi atau pembuahan yang satu lagi menjadi mola hidatidosa. Kedua, hamil tunggal yang berupa mola parsialis.
Gejala dan Kepastian
Pada permulaannya, gejala “hamil anggur” tidak seberapa berbeda dengan kehamilan biasa, yaitu adanya aktivitas atau tanda-tanda enek, muntah, pusing, dan lain-lain pada ibu. Hanya saja, dalam kasus “hamil anggur” ini derajat keluhannya sering lebih hebat.
Selanjutnya, perkembangan lebih pesat, rahim terlalu cepat membesar tidak sesuai dengan umur kehamilan. Perdarahan merupakan gejala utama mola, seperti penderita dengan abortus
immineans (keguguran). Biasanya, gejala inilah yang menyebabkan penderita datang ke rumah sakit. Sifat perdarahan bisa intermitte, sedikit-sedikit atau sekaligus banyak sehingga menyebabkan syok atau kematian. Karena perdarahan ini, maka umumnya pasien mola masuk ke dalam keadaan anemia atau kurang darah.
Gejala ini sering pula disertai dengan gejala menyerupai preeklampsia seperti nyeri kepala, gangguan penglihatan dan lain-lain.
Lantas, bagaimana memastikan seseorang sedang “hamil anggur” atau tidak? Adanya “hamil anggur” harus dicurigai bila ada wanita usia subur dengan amenore (terlambat haid), perdarahan pervaginam, uterus/rahim yang lebih besar dari tuanya kehamilan dan tidak ditemukan tanda kehamilan pasti. Artinya, dari pemeriksaan melalui perabaan tidak ditemukan adanya janin atau bagian tubuh janin dan detak jantung janin pun tidak terdengar.
Untuk memastikan “hamil anggur” atau tidak, gejala-gejala tersebut harus didukung dengan pemeriksaan laboratorium, yaitu pemeriksaan terhadap kadar hormon (HCG/Humas Chorionic Gonadotropin) dalam darah dan urin, dimana akan terdapat peninggian kadar hormon tersebut. Bila belum jelas, dapat dilakukan pemeriksaan foto abdomen, biopsi transplasental dan pemeriksaan dengan sonde uterus yang diputar (perasat Hanifa Wikjnjosastro atau Acosta Sisson). Di samping itu, bisa juga dengan cara melakukan pemeriksaan USG (ultrasonografi), dimana kasus ini menunjukkan gambar berupa badai salju (snow flake pattern) atau sarang tawon tanpa disertai adanya janin.
Diagnosis yang paling tepat adalah bila dilihat gelembung mola-nya, baik melalui ekspulsi spontan maupun biopsi pasca perasat Hanifa Wiknjosastro atau Acosta Sisson. Tetapi bila ditunggu sampai gelembung mola keluar biasanya sudah terlambat karena pengeluaran gelembung umumnya disertai perdarahan yang banyak dan keadaan umum pasien menurun. Yang baik ialah bila dapat mendiagnosis sebelum gelembung mola keluar.
Penanganan dan Prognosis
Penanganan “hamil anggur” terdiri dari beberapa tahap sbb.;
1. Memperbaiki keadaan umum penderita seperti pemberian tranfusi darah untuk memperbaiki syok atau anemia yang terjadi.
2. Tindakan mengeluarkan jaringan mola — ada dua cara yaitu vacum kuretase atau kuret vakum dan histerektomi (pengangkatan rahim). Pengeluaran dengan kuret vakum lebih aman daripada dengan kuret tajam. Untuk histerektomi akan dilakukan pada wanita telah cukup umur (di atas 35 tahun) dan cukup mempunyai anak (anak hidup tiga). Alasan dilakukannya histerektomi adalah karena umur atau dan paritas tinggi merupakan faktor prediksposisi untuk terjadinya keganasan.
3. Apabila penderita dengan kasus ini menolak dilakukan histerektomi, maka dapat dilakukan pemberian terapi profilaksis dengan sitostatika (obat-obat antikanker), untuk menghindari terjadinya keganasan dengan metastase (menyebar).
4. Pemeriksaan tindak lanjut.
Lalu, kapan penderita mola dapat dianggap sehat kembali? Sampai sekarang belum ada kesepakatan. Ada yang menyatakan apabila kadar hormon HCG dan kali berturut-turut normal. Tetapi ada pula yang menyebutkan bila sudah melahirkan anak yang normal. Setelah dikuret, minimal satu sampai dua tahun pertama penderita harus terus dievaluasi. Hal ini perlu dilakukan mengingat adanya kemungkinan keganasan setelah mola hidatidosa. Caranya, dengan melakukan pemeriksaan ginekologi, kadar HCG dan radiologik secara berkala.
Dengan pemantauan ini, kemungkinan terjadinya mola ganas dapat terdeteksi lebih dini sehingga pengobatan bisa dilakukan lebih awal dengan hasil yang memuaskan. Hal ini karena sifat mola yang menyerupai penyakit kanker, yang bisa menyebar sampai ke paru-paru, otak dan sumsum tulang belakang. Selama pemantauan pasien dianjurkan untuk tidak hamil yaitu dengan menggunakan kontrasepsi hormonal jika masih ingin anak atau tubektomi jika ingin menghentikan fertilitas.
Terus, bagaimana prognosis penyakit ini? Kematian pada mola hidatidosa disebabkan perdarahan, infeksi, eklampsia, payah jantung (tirotoksikosis). Di negara maju, kematian karena kasus ini hampir tidak ada lagi, namun di negara berkembang masih cukup tinggi yaitu berkisar antara 2,2% – 5,7%. Sebagian besar penderita akan sehat kembali setelah jaringan mola dikeluarkan. Namun, dalam sejumlah kasus pada penderita, penyakit ini dapat beralih ke arah keganasan yang dalam istilah kedokteran disebut korikoarsinoma. Terjadinya proses keganasan paling terbanyak terjadi pada enam bulan pertama pasca-mola. Terdapat juga kemungkinan adanya mola yang berulang, tetapi kasus ini jarang terjadi.
Untuk menentukan kapan kembalinya fungsi reproduksi setelah mola sebetulnya agak sukar, karena saat pemantauan pasca-mola penderita diharuskan memakai kontrasepsi. Tetapi secara umum dikatakan bahwa kemampuan reproduksi pasca-mola tidak banyak berbeda dari kehamilan lainnya. Anak-anak yang dilahirkan setelah mola hidatidosa ternyata umumnya normal.
* dr. km. alit widnyana
Add comment Juli 1, 2007