MOLA HIDATIDOSA
Mengapa Bisa Terjadi ”Hamil Anggur”?
”Hamil anggur” atau yang dalam dunia kedokteran dikenal sebagai mola hidatidosa adalah suatu kehamilan yang berkembang tidak wajar. Di dalam rahim tidak ditemukan janin, melainkan jaringan berbentuk gelembung-gelembung seperti buah anggur yang berisi cairan.
”HAMIL anggur” sering pula disebut mola komplit (complete mole). Sedangkan apabila disertai janin atau bagian dari janin disebut mola parsialis (partial mole). Bila ada mola disertai janin, kejadiannya ada dua kemungkinan. Pertama, kehamilan kembar, satu janin tumbuh normal dan hasil konsepsi atau pembuahan yang satu lagi menjadi mola hidatidosa. Kedua, hamil tunggal yang berupa mola parsialis.
Gejala dan Kepastian
Pada permulaannya, gejala “hamil anggur” tidak seberapa berbeda dengan kehamilan biasa, yaitu adanya aktivitas atau tanda-tanda enek, muntah, pusing, dan lain-lain pada ibu. Hanya saja, dalam kasus “hamil anggur” ini derajat keluhannya sering lebih hebat.
Selanjutnya, perkembangan lebih pesat, rahim terlalu cepat membesar tidak sesuai dengan umur kehamilan. Perdarahan merupakan gejala utama mola, seperti penderita dengan abortus
immineans (keguguran). Biasanya, gejala inilah yang menyebabkan penderita datang ke rumah sakit. Sifat perdarahan bisa intermitte, sedikit-sedikit atau sekaligus banyak sehingga menyebabkan syok atau kematian. Karena perdarahan ini, maka umumnya pasien mola masuk ke dalam keadaan anemia atau kurang darah.
Gejala ini sering pula disertai dengan gejala menyerupai preeklampsia seperti nyeri kepala, gangguan penglihatan dan lain-lain.
Lantas, bagaimana memastikan seseorang sedang “hamil anggur” atau tidak? Adanya “hamil anggur” harus dicurigai bila ada wanita usia subur dengan amenore (terlambat haid), perdarahan pervaginam, uterus/rahim yang lebih besar dari tuanya kehamilan dan tidak ditemukan tanda kehamilan pasti. Artinya, dari pemeriksaan melalui perabaan tidak ditemukan adanya janin atau bagian tubuh janin dan detak jantung janin pun tidak terdengar.
Untuk memastikan “hamil anggur” atau tidak, gejala-gejala tersebut harus didukung dengan pemeriksaan laboratorium, yaitu pemeriksaan terhadap kadar hormon (HCG/Humas Chorionic Gonadotropin) dalam darah dan urin, dimana akan terdapat peninggian kadar hormon tersebut. Bila belum jelas, dapat dilakukan pemeriksaan foto abdomen, biopsi transplasental dan pemeriksaan dengan sonde uterus yang diputar (perasat Hanifa Wikjnjosastro atau Acosta Sisson). Di samping itu, bisa juga dengan cara melakukan pemeriksaan USG (ultrasonografi), dimana kasus ini menunjukkan gambar berupa badai salju (snow flake pattern) atau sarang tawon tanpa disertai adanya janin.
Diagnosis yang paling tepat adalah bila dilihat gelembung mola-nya, baik melalui ekspulsi spontan maupun biopsi pasca perasat Hanifa Wiknjosastro atau Acosta Sisson. Tetapi bila ditunggu sampai gelembung mola keluar biasanya sudah terlambat karena pengeluaran gelembung umumnya disertai perdarahan yang banyak dan keadaan umum pasien menurun. Yang baik ialah bila dapat mendiagnosis sebelum gelembung mola keluar.
Penanganan dan Prognosis
Penanganan “hamil anggur” terdiri dari beberapa tahap sbb.;
1. Memperbaiki keadaan umum penderita seperti pemberian tranfusi darah untuk memperbaiki syok atau anemia yang terjadi.
2. Tindakan mengeluarkan jaringan mola — ada dua cara yaitu vacum kuretase atau kuret vakum dan histerektomi (pengangkatan rahim). Pengeluaran dengan kuret vakum lebih aman daripada dengan kuret tajam. Untuk histerektomi akan dilakukan pada wanita telah cukup umur (di atas 35 tahun) dan cukup mempunyai anak (anak hidup tiga). Alasan dilakukannya histerektomi adalah karena umur atau dan paritas tinggi merupakan faktor prediksposisi untuk terjadinya keganasan.
3. Apabila penderita dengan kasus ini menolak dilakukan histerektomi, maka dapat dilakukan pemberian terapi profilaksis dengan sitostatika (obat-obat antikanker), untuk menghindari terjadinya keganasan dengan metastase (menyebar).
4. Pemeriksaan tindak lanjut.
Lalu, kapan penderita mola dapat dianggap sehat kembali? Sampai sekarang belum ada kesepakatan. Ada yang menyatakan apabila kadar hormon HCG dan kali berturut-turut normal. Tetapi ada pula yang menyebutkan bila sudah melahirkan anak yang normal. Setelah dikuret, minimal satu sampai dua tahun pertama penderita harus terus dievaluasi. Hal ini perlu dilakukan mengingat adanya kemungkinan keganasan setelah mola hidatidosa. Caranya, dengan melakukan pemeriksaan ginekologi, kadar HCG dan radiologik secara berkala.
Dengan pemantauan ini, kemungkinan terjadinya mola ganas dapat terdeteksi lebih dini sehingga pengobatan bisa dilakukan lebih awal dengan hasil yang memuaskan. Hal ini karena sifat mola yang menyerupai penyakit kanker, yang bisa menyebar sampai ke paru-paru, otak dan sumsum tulang belakang. Selama pemantauan pasien dianjurkan untuk tidak hamil yaitu dengan menggunakan kontrasepsi hormonal jika masih ingin anak atau tubektomi jika ingin menghentikan fertilitas.
Terus, bagaimana prognosis penyakit ini? Kematian pada mola hidatidosa disebabkan perdarahan, infeksi, eklampsia, payah jantung (tirotoksikosis). Di negara maju, kematian karena kasus ini hampir tidak ada lagi, namun di negara berkembang masih cukup tinggi yaitu berkisar antara 2,2% – 5,7%. Sebagian besar penderita akan sehat kembali setelah jaringan mola dikeluarkan. Namun, dalam sejumlah kasus pada penderita, penyakit ini dapat beralih ke arah keganasan yang dalam istilah kedokteran disebut korikoarsinoma. Terjadinya proses keganasan paling terbanyak terjadi pada enam bulan pertama pasca-mola. Terdapat juga kemungkinan adanya mola yang berulang, tetapi kasus ini jarang terjadi.
Untuk menentukan kapan kembalinya fungsi reproduksi setelah mola sebetulnya agak sukar, karena saat pemantauan pasca-mola penderita diharuskan memakai kontrasepsi. Tetapi secara umum dikatakan bahwa kemampuan reproduksi pasca-mola tidak banyak berbeda dari kehamilan lainnya. Anak-anak yang dilahirkan setelah mola hidatidosa ternyata umumnya normal.
* dr. km. alit widnyana
Add comment Juli 1, 2007 hahahihihuhu
langsing kembali setelah melahirkan
|
Khawatir menjadi gemuk setelah melahirkan agaknya sudah jadi ketakutan yang ‘wajar’ bagi ibu-ibu muda yang kini tengah merencanakan untuk memiliki momongan. Pasalnya, sudah banyak ‘contoh’ di sekeliling kita yang memperlihatkan betapa wanita yang baru melahirkan umumnya akan mengalami kenaikan berat badan yang lumayan besar dari beratnya semula sebelum hamil. |
||
|
Sebenarnya tak perlu khawatir berlebihan menyikapi hal ini. Karena ada beberapa penelitian yang mengungkap, bahwa aktifitas menyusui bayi bisa membantu ibu untuk menurunkan berat badannya secara bertahap, setidaknya selama 12 bulan setelah kelahiran. Dalam proses tersebut, sejumlah hormon akan dilepaskan ke dalam tubuh. Hormon-hormon inilah yang akan membantu uterus (rahim) untuk mengembalikan tubuh ke bentuk dan ukuran semula seperti sebelum masa kehamilan. |
||
Walau menyusui merupakan cara alami untuk menurunkan berat badan, jangan lantas Anda hanya mengandalkan cara ini. Sebaiknya lakukan juga program penurunan berat badan yang mendukung, termasuk mencermati konsumsi makanan dan melakukan latihan-latihan atau olahraga yang sesuai dengan kemampuan tubuh Anda. |
||
|
3. Cari informasi yang Tepat untuk Memilih Program Diet Untuk yang satu ini, Anda disarankan untuk menghubungi dokter atau klinik yang kompeten untuk menjelaskan nutrisi penting bagi wanita pasca melahirkan. Jatuhkan pilihan pada program diet yang menawarkan cara alami dan menawarkan penurunan berat badan secara bertahap, sehingga aman bagi kesehatan |
||||
|
www.conectique.com/tips_solution/pregnancy/baby_delivery/article.php?article_id=2934 – 33k
Add comment Juni 29, 2007 hahahihihuhu
ANTENATAL CARE (diagnosa pra kelahiran)
Dengan kemajuan ilmu kedikteran saat ini, kini calon ibu tak pelu lagi cemas dan bertanya-tanya “Apakah kelak bayiku akan lahir sehat dan normal?” Sebab kini sudah ada Metode pendeteksian yang melibatkan pemeriksaan rutin sejak masa kehamilan dini. Pemeriksaan yang disebut sebagai Antenatal care. Sebuah tes yang dapat membantu calon orangtua untuk mendapatkan mendiagnosa kecenderungan bayi lahir cacat atau normal. Sehingga jika ada kemungkinan ketidaknormalan pada janin calon orangtua serta dokter yang menangani dapat segera mengambil tindakan.
Tes apakah dan apa sajakah itu?
1. Tes darah
Jenis pemeriksaan ini dianjurkan dokter setelah Anda dinyatakan positif hamil. Contoh darah akan diambil untuk diperiksa apakah terinfeksi virus tertentu atau resus antibodi.
Contoh darah calon ibu juga digunakan untuk pemeriksaan hCG. Dunia kedokteran menemukan, kadar hCG yang tinggi pada darah ibu hamil berarti ia memiliki risiko yang tinggi memiliki bayi dengan sindroma Down.
2. Alfa Fetoprotein (AFP)
Tes ini hanya pada ibu hamil dengan cara mengambil contoh darah untuk diperiksa. Tes dilaksanakan pada minggu ke-16 hingga 18 kehamilan. Kadar Maternal-serum alfa-fetoprotein (MSAFP) yang tinggi menunjukkan adanya cacat pada batang saraf seperti spina bifida (perubahan bentuk atau terbelahnya ujung batang saraf) atau anencephali (tidak terdapatnya semua atau sebagian batang otak). Kecuali itu, kadar MSAFP yang tinggi berisiko terhadap kelahiran prematur atau memiliki bayi dengan berat lahir rendah. 3. Sampel Chorion Villus (CVS)
Tes ini jarang dilakukan oleh para dokter karena dikhawatirkan berisiko menyebabkan abortus spontan. Tes ini dilakukan untuk memeriksa kemungkinan kerusakan pada kromosom. Serta untuk mendiagnosa penyakit keturunan. Tes CVS ini mampu mendeteksi adanya kelainan pada janin seperti Tay-Sachs, anemia sel sikel, fibrosis berkista, thalasemia, dan sindroma Down.
4. Ultrasonografi (USG)
Tes ini dilakukan untuk mendeteksi kelainan struktural pada janin, seperti; bibir sumbing atau anggota tubuh yang tidak berkembang. Sayangnya USG tidak bisa mendeteksi kecacatan yang disebabkan oleh faktor genetik. Biasanya USG dilakukan pada minggu ke-12 kehamilan. Pada pemeriksaan lebih lanjut USG digunakan untuk melihat posisi plasenta dan jumlah cairan amnion, sehingga bisa diketahui lebih jauh cacat yang diderita janin.
Kelainan jantung, paru-paru, otak, kepala, tulang belakang, ginjal dan kandung kemih, sistem pencernaan, adalah hal-hal yang bisa diketahui lewat USG.
5. Amiosentesis
Pemeriksaan ini biasanya dianjurkan bila calon ibu berusia di atas 35 tahun. Karena hamil di usia ini memiliki risiko cukup tinggi. Terutama untuk menentukan apakah janin menderita sindroma Down atau tidak. Amniosentesis dilakukan dengan cara mengambil cairan amnion melalui dinding perut ibu. Cairan amnion yang mengandung sel-sel janin, bahan-bahan kimia, dan mikroorganisme, mampu memberikan informasi tentang susunan genetik, kondisi janin, serta tingkat kematangannya. Tes ini dilakukan pada minggu ke-16 dan 18 kehamilan. Sel-sel dari cairan amnion ini kemudian dibiakkan di laboratorium. Umumnya memerlukan waktu sekitar 24 sampai 35 hari untuk mengetahui dengan jelas dan tuntas hasil biakan tersebut.
6. Sampel darah janin atau cordosentesis
Sampel darah janin yang diambil dari tali pusar. Langkah ini diambil jika cacat yang disebabkan kromosom telah terdeteksi oleh pemeriksaan USG. Biasanya dilakukan setelah kehamilan memasuki usia 20 minggu. Tes ini bisa mendeteksi kelainan kromosom, kelainan metabolis, kelainan gen tunggal, infeksi seperti toksoplasmosis atau rubela, juga kelainan pada darah (rhesus), serta problem plasenta semisal kekurangan oksigen.
7. Fetoskopi
Meski keuntungan tes ini bisa menemukan kemungkinan mengobati atau memperbaiki kelainan yang terdapat pada janin. Namun tes ini jarang digunakan karena risiko tindakan fetoskopi cukup tinggi. Sekitar 3 persen sampai 5 persen kemungkinan kehilangan janin. Dilakukan dengan menggunakan alat mirip teleskop kecil, lengkap dengan lampu dan lensa-lensa.
Dimasukkan melalui irisan kecil pada perut dan rahim ke dalam kantung amnion. Alat-alat ini mampu memotret janin. Tentu saja sebelumnya perut si ibu hamil diolesi antiseptik dan diberi anestesi lokal.
8. Biopsi kulit janin
Pemeriksaan ini jarang dilakukan di Indonesia. Biopsi kulit janin (FSB) dilakukan untuk mendeteksi kecacatan serius pada genetika kulit yang berasal dari keluarga, seperti epidermolysis bullosa lethalis (EBL). Kondisi ini menunjukkan lapisan kulit yang tidak merekat dengan pas satu sama lainnya sehingga menyebabkan panas yang sangat parah. Biasanya tes ini dilakukan setelah melewati usia kehamilan 15-22 minggu.
Pemeriksaan kehamilan sejak dini, akan memberi informasi yang berharga untuk membuat keputusan yang tepat bagi Anda dan pasangan untuk membuat keputusan yang terbaik bagi janin bila diketahui janin menderita kecacatan.
www.conectique.com/tips_solution/pregnancy/baby_delivery/article.php?article_id=2934 – 33k
Add comment Juni 28, 2007 hahahihihuhu
persahabatan
Setitik kasih membuat kita sayang….
Seucap kata membuat kita percaya…
Sekecil luka membuat kita kecewa…
Tetapi sebuah persahabatan akan selamanya bermakna…
Add comment Juni 28, 2007 hahahihihuhu
kata-kata bijak
Hidup itu bukan di nilai dari sebuah pilihan yang kita pilih tetapi menjalani pilihan itu dengan sebaik – baiknya , karena sesungguhnya di dalam hidup ini banyak jalan menuju tujuan kita. Tinggal kita memanfaatkan jalan kehidupan kita seindah mungkin
Add comment Juni 28, 2007 hahahihihuhu
Hello world!
Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!
1 comment Juni 26, 2007 hahahihihuhu
| Next Posts |